Sabtu, 21 April 2012

BAB 3-Manusia dan Peradaban


1.    Pengertian Adab dan Peradaban
        Peradaban berasal dari kata ‘adab’ yang berarti “kesopanan, kehormatan, budi bahasa dan etiket”. Lawannya adalah “biadab, kasar, kurang ajar dan tidak tahu pergaulan”. Peradaban adalah “seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan ilmu teknik untuk kegiatan praktis”, menurut ahli Antropologi De Haan. Beals dan Hoiley mengatakan bahwa peradaban sama dengan kebudayaan, apabila dipandang dari segi kuantitasnya, tetapi berbeda dalam kualitas, isi, dan kompleks pola-polanya.
        Menurut pandangan Alisyahbana (1981), peradaban adalah apabila perwujudan budaya yang penekanannya pada akal, dengan demikian muncul tingkat peradaban tinggi dan peradaban rendah, menurut tinggi rendahnya tingkat kemampuan berpikir. Pandangan Koentjaraningrat (1982:9-10) istilah peradaban dapat disejajarkan dengan istilah Inggris, yaitu civilization yang biasa untuk bagian-bagian dari unsur kebuayaan serta sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu masyarakat dengan struktur dan kompleks.
        Jadi, peradaban sebagai suatu perwujudan budaya didasarkan pada akal (rasio) semata-mata dengan mengabaikan nurani akan berlainan dengan perwujudan budaya yang didasarkan pada akal, nurani, dan kehendak sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Istilah peradaban juga digunakan untuk menyebut kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, system kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.


2.  Pengertian Manusia sebagai Makhluk Beradab dan Masyarakat Adab
        Kesempurnaan manusia terletak pada adab. Manusia beradab karena dalam jiwanya dilengkapi dengan akal, nurani, dan kehendak.

G  Akal berfungsi sebagai alat berpikir dan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya akal, manusia dapat menilai fakta, peristiwa, atau lingkungan mana yang salah.
A  Nurani berfungsi sebagai alat merasa, menentukan kata hati dan sumber kesenian. Dengan adanya nurani, manusia bisa merasakan atau menilai suatu fakta, peristiwa atau lingkungan yang baik dan indah serta mana yang jelek atau buruk.
B  Kehendak berfungsi sebagai alat memutus, menentukan kebutuhan, dan sumber kegunaan.

Menurut Bismar Siregar (1996), manusia diciptakan oleh Tuhan sempurna berbekal akal yang tidak ada pada makhluk lain. Kelebihan akal manusia itu didasari moral atau iman membuat dia mendekati kedudukan malakat, tetapi bukan mustahil pula dia akan serupa dengan binatang karena dia mendekati jejak setan.
   

3.  Evolusi Budaya dan Tahapan-Tahapan Peradaban
Sistem nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi tentang nilai yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar anggota atau warga masyarakat, dan berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi sikap mental, cara berpikir, dan tingkah laku mereka. 
Menurut Munandar Sulaiman (1992:3-4), latar belakang terjadinya perubahan atau evolusi budaya, yaitu:
v  Jarak komunikasi antarkelompok etnis
v  Pelaksanaan pembangunan
v  Kemajuan IPTEK
Evolusi budaya dapat mendorong ke areah perbaikan dan peningkatan kualitas dari:
v  Pola hidup tradisional, konvensional, dan bertaraf lokal yang berbau mistis, berubah menjadi pola hidup modern bertaraf nasional atau internasional yang berbasis IPTEK.
v  Pola hidup sederhana yang hanya bergantung pada alam lingkungan, meningkat menjadi pola hidup modern yang mampu menguasai alam lingkungan dengan dukungan sarana dan prasarana serta teknologi.
v  Pola hidup makmur yang hanya kecukupan pangan, sandang, dan perumahan meningkat menjadi pola hidup makmur dan juga sehat, teratur, bersih, dan senang serta aman sesuai dengan standar menurut IPTEK.
v  Kemampuan kerja yang hanya berbasis kekuatan fisik dan pengalaman, meningkat menjadi kemampuan kerja berbasis keahlian, dan keterampilan yang didukung oleh teknologi.

4.  Dampak Evolusi Budaya 
Apabila budaya mengalami perubahan akan terjadi pula perubahan sikap mental, pola pikir, dan pola tingkah laku anggota atau warga masyarakat dalam berbagai aspek nilai kebudayaan. Perubahan budaya dapat berakibat positif, yaitu memperkaya nilai-nilai kehidupan yang sudah ada, mendorong ke arah kemajuan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat. Selain itu, perubahan budaya dapat pula berakibat negatif, yaitu merusak nilai-nilai kehidupan yang sudah ada, menghambat kemajuan, memperburuk sendi-sendi kehidupan, dan merugikan masyarakat sehingga terjadi krisis kemasyarakatan.

5.  Peradaban dan Perubahan Sosial
Perwujudan budaya dapat menekankan pada akal (rasio) saja atau menekankan pada semua unsur akal, nurani, dan kehendak sebagai satu kesatuan utuh. Perwujudan budaya yang didasarkan pada akal (rasio) tanpa mengindahkan nurani akan menimbulkan tentang peradaban (civilization) dan kebudayaan (culture).
Apabila perwujudan budaya penekanannya pada ketiga unsur, yaitu akal, nurani, dan kehendak akan menimbulkan tingkat kebudayaan berbeda sehingga muncul ada kebudayaan tinggi dan ada kebudayaan rendah.

6.     Wujud-Wujud Peradaban
§          Nilai
Menilai berarti mempertimbangkan untuk menentukan apakah sesuatu itu bermanfaat atau tidak, hasil penilaian tersebut disebut nilai (value). Konsepsi-konsepsi tentang nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia dalam tingkatan yang paling abstrak.

§         Moral
Moral adalah kebiasaan berbuat baik disebut perbuatan moral atau susila. Moral bersifat kodrati, artinya manusia sejak diciptakan dibekali dengan sifat-sifat baik, jujur, dan adil. Orang dikatakan bermoral apabila dapat mewujudkan kodratnya untuk berfungsi dengan baik, jujur, dan adil dalam tindakannya.

§          Norma
Norma adalah suatu aturan yang berlaku, bersifat mengikat, norma diperlukan dalam menuntut sikap dan tingkah laku manusia. Terdapat berbagai macam norma.

§  Etika
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethosyang berarti adat kebiasaan atau akhlak yang baik. Etika adalah ilmu tentang kebiasaan yang baik berupa perilaku.

§          Estetika
Estetika adalah ilmu yang mengkaji tentang sifat estetika suatu objek dan merupakan bagian dari ilmu filsafat yang menelaah dan membahas aspek-aspek keindahan sesuatu, yaitu mengenai rasa, sifat, norma, cara menanggapi, dan cara membandingkannya dengan menggunakan penilaian perasaan.

    7.   Tradisi, Modernisasi, dan Masyarakat Madani
        Tradisi adalah suatu kebiasaan, suatu kepercayaan yang sudah sangat mendarah daging pada suatu masyarakat, yang apabila tidak dilaksanakan atau menyimpang akan mengakibatkan sesuatu kejelekan, sedangkan modernisasi adalah persoalan menarik yang dewasa ini merupakan gejala umum di dunia. Proses modernisasi mencakup proses yang sangat luas. Kadang-kadang batas-batasnya tidak dapat ditetapkan secara mutlak. Karakter umum modernisasi yang memperkuat aspek-aspek sosiodemografi digambarkan dengan istilah gerak sosial (social mobility).

8.  Ketenangan, Kenyamanan, Ketentraman, dan Kedamaian sebagai Makna Hakiki Manusia yang Beradab 
        Dalam kehidupan manusia disadari bahwa yang benar, yang indah atau baik, dan berguna menciptakan kesenangan, kepuasan, kebahagiaan, dan kedamaian bagi semua orang . Sebaliknya, manusia menyadari bahwa yang salah, yang jelek atau yang tidak berguna membuat orang tidak senang, tidak bahagia,dan tidak ada kedamaian dalam hidupnya. Manusia yang memilih lingkungan yang salah, buruk, jelek, menjadi sumber keonaran, kekacauan, penderitaan bagi lingkungannya perlu dimanusiakan kembali karena salah arah dan salah jalan.

    9.  Peradaban dan Problematikanya bagi Kehidupan Manusia
9.1     Kemajuan Media Komunikasi bagi Adab dan Peradaban Manusia
Manusia memiliki cara dan pola hidup yang berdimensi ganda, di mana manusia memiliki kehidupan yang bersifat material dan spiritual.

9.2   Kemajuan IPTEK bagi Adab dan Peradaban Manusia
Dengan majunya IPTEK, cara atau pola pikir manusia akan lebih maju atau modern tetapi apabila pola pikir tersebut tidak dibarengi dengan adab atau peradaban yang baik, kemajuan tersebut tidak hanya berdampak positif tetapi lebih cenderung berdampak negatif.


10.     Pertumbuhan dan Perkembangan Demografi terhadap Adab dan Peradaban Manusia
Demografi adalah studi ilmiah yang menyangkut masalah kependudukan, terutama dalam kaitannya dengan jumlah, struktur maupun perkembangannya.
Natalitas, mortalitas, gerak teritorial, dan mobilitas sosial dapat menimbulkan problematika bagi kehidupan manusia antara lain:
°  Natalitas (Kelahiran)
Tingkat kelahiran yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kepadatan penduduk di suatu negara, sulitnya mencari lapangan pekerjaan dan banyaknya pengangguran.

°  Mortalitas (Kematian)
Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk tetapi juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

°  Gerak Teritorial (Migrasi)
Migrasi (perpindahan penduduk) dapat menyebabkan tidak meratanya penyebaran jumlah penduduk.

°  Mobilitas Sosial
Mobilitas penduduk dibagi dua, yaitu mobilitas permanen (migrasi) dan mobilitas nonpermanen (mobilitas sirkuler). Mobilitas sirkuler adalah gerakan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan tidak ada niat untuk menetap di daerah tujuan. Salah satu penyebab terjadinya mobilitas sirkuler adalah tekanan penduduk yang cukup tinggi di daerah pedesaan dan tidak cukup tersedianya lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian.

Sumber : Dr. M. Rafiek. 2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar